Perjalanan Korban Program Satu Anak Tiongkok Menelusuri Asal-Usulnya

Perjalanan Korban Program Satu Anak Tiongkok Menelusuri Asal-Usulnya

Meskipun ada beberapa pengecualian dalam peraturan tersebut dan iming-iming pemberian insentif, jutaan orang dihukum berat karena memiliki lebih dari satu anak. Sanksi yang dijatuhkan berupa denda hingga aborsi paksa dan sterilisasi. Takut terhadap hukuman yang akan diterima, sejumlah orang tua terpaksa menelantarkan atau menyerahkan anak-anak mereka untuk diadopsi. Namun, menurut Nanfu Wang yang menyutradarai film dokumenter One Child Nation, banyak anak dalam daftar adopsi internasional diambil secara paksa tanpa persetujuan orang tua.

Youqine Lefèvre diadopsi keluarga Belgia saat masih bayi. Ayahnya, bersama lima keluarga lain, berkumpul di bandara Brussel untuk pergi ke Tiongkok pada Juli 1994. Mereka menghabiskan dua minggu di kota Yueyang, provinsi Hunan, hingga proses adopsi selesai. Sang ayah mendokumentasikan perjalanannya dari Brussel sampai panti asuhan Yueyang.

Hasil jepretannya menampilkan sekelompok calon orang tua melewati tanah tandus hingga tiba di halaman panti asuhan. Bangunannya kumuh dengan cat tembok yang mengelupas di sana-sini. Setelah menunggu sebentar, mereka diperkenalkan pada enam anak perempuan yang telah ditentukan. Pada saat itulah dia bertemu dengan Youqine yang baru delapan bulan.

Waktu terus berlalu, kenangan pun memudar. Namun, Youqine yang sekarang berusia 27 mulai mempelajari asal-usulnya melalui foto-foto yang diabadikan orang tua angkat. “Selama ini, saya memiliki hubungan yang bertentangan dengan Tiongkok. Saya tidak mau kembali ke sana,” katanya. “Tapi, saat berusia 23, naluri mengatakan saya harus pergi ke sana. Mungkin ini bentuk kedewasaan, ada keinginan menjelajahi di mana tempatmu berada.”

Setelah lulus dari Sekolah Riset Grafis (ERG) di Brussel, Youqine memutuskan untuk mengunjungi tanah kelahirannya. Ketika mendatangi panti asuhan Yueyang, dia mengamati keadaan sekitar sudah banyak berubah. Banyak bangunan dan jalanan baru di sana. Panti asuhan kini menerima penyandang disabilitas dan gangguan jiwa, serta lansia yang membutuhkan perawatan. Satu-satunya kenangan lama yang tersisa di sana adalah gedung tempat sang ayah menggendong Youqine untuk pertama kalinya.

Dia tak tahu-menahu soal orang tua kandungnya. Ayah ibu diduga menelantarkan bayi mereka sebulan setelah dia lahir. Hanya ada secarik kertas berisi tanggal lahir ketika seseorang menemukannya di tepi jalan Wulipai. Youqine yang masih bayi dibawa ke kantor polisi, lalu diserahkan ke panti asuhan.

Dia juga mampir ke kantor polisi saat kembali ke Tiongkok. Keresahan menyelimuti benak Youqine sepanjang petualangannya mendatangi tempat-tempat yang tadinya hanya diketahui dari berkas administrasi. “Rasanya menjadi lebih nyata,” tuturnya. “Melestarikan jejak melalui  fotografi adalah upaya kepemilikan. Saya memasukkannya ke dalam ceritaku.”

Proyek foto terbaru Youqine, The Land of Promises, menyatukan foto-foto yang diabadikan saat berkunjung ke Yueyang pada 2017 dan 2019. Walaupun berkaitan dengan masa kecilnya, ini bukan karya autobiografi karena dia membatasi aspek pribadi untuk membahas subjek yang lebih penting. “Pada kenyataannya, saya ingin memahami kebijakan satu anak ini,” dia berujar.

Salah satu efek samping kebijakan yang baru dicabut pada 2015 yaitu terjadinya ketidakseimbangan gender di Tiongkok. “Akibat patriarki dan preferensi budaya yang mengutamakan anak laki-laki, anak perempuan semakin didiskriminasi melalui aborsi, penelantaran atau pembunuhan bayi,” terang Youqine. Kurangnya perempuan mempercepat proses penuaan populasi, yang pada akhirnya mendorong pemerintah untuk mengizinkan keluarga memiliki hingga tiga anak pada 2021.

Puluhan tahun ditelantarkan dan tak diinginkan, anak perempuan kini semakin langka dan dicari, terutama di daerah pedesaan yang hampir seluruhnya didominasi laki-laki. “Rasanya ganjil tapi ada banyak desa yang semua warganya laki-laki,” ungkap Youqine. “Mereka hidup miskin, dan perempuan yang punya lebih banyak pilihan memutuskan untuk merantau ke kota.” Akibatnya, rentan terjadi penculikan perempuan dari negara-negara seperti Kamboja, Nepal, Indonesia dan Korea Utara. Korban perdagangan manusia dipaksa menjadi pengantin laki-laki Tiongkok.

Youqine terpikir untuk mencari orang tua kandungnya suatu saat nanti, berbekal foto paspor saat masih bayi. “Saya selalu melihat foto ini di berkas-berkas saya, tapi tak pernah benar-benar memikirkannya,” katanya. “Saya bahkan tidak tahu berapa umur saya sebenarnya. Saya juga tidak tahu apa yang terjadi sebelum diadopsi.”

Simak foto-fotonya berikut ini:

https://platform.instagram.com/en_US/embeds.js



Berita ini bersumber dari Vice Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *