NENEK TANGGUH ITU BERNAMA MBAH NGASIRAH, Kisah Inspirasi

LGMI NEWS,DEMAK ll lembagagarudamudaindonesia.or.id/news

Setiap hari Mbah Ngasirah (50 )tahun, dengan mengendarai sepeda ontel yang telah usang harus berjalan merambat menyusuri jalan setapak yang sudah tidak layak lagi untuk dilewati. Air rob yang terjadi setiap hari menjadikan jalan licin dan berlubang. Sering juga Mbah Ngasirah ataupun warga Timbulsloko Kec.Sayung Kab.Demak yang lainya terpeleset atau terpelosok di jalan tersebut,tapi hal tersebut tidak menurunkan semangat Mbah Ngasirah. (8/4/21)

Di usia senjanya Beliau tidak putus asa, karena jalan itu merupakan jalan satu-satunya bagi dirinya untuk menjajakan gimbal udang atau rempeyek di daerah onggorawe, Sayung.
Alhamdulillah, saya dipertemukan dengan sosok Ibu 4 (empat) anak ini dalam acara peringatan hari Nelayan 2021 yang diprakarsai dan dihadiri oleh aktris serta jaringan yang peduli dengan masalah di timbulsloko ini.

Diantaranya aktifis yg hadir adalah Masnuah ,Rara Ayu Hermawati (Dir. Lbh Apik Semarang), Yayasan Paralegal Pertiwi , Kiara , PPNI Tim Solidaritas Kemanusiaan Kab. Demak, Fosil dan FDH yang merupakan penggiat lingkungan hidup Demak.

Pada kesempatan itu pula para aktivis jg membagikan bibit mangrove maupun tanaman pangan bagi warga Timbulsloko.

Potret Mbah Ngasirah ini adalah salah satu penduduk Desa Timbulsloko, yang mana abrasi mulai menghantam Desa Timbulsloko Kec Sayung Kabupaten Demak pada tahun 2010. Diketahui bersama sampai saat ini Timbulsloko semakin tenggelam, tidak hanya warganya yg terdampak kehilangan mata pencahariannya jg aktifitas lain terganggu.

Sudah menjadi rahasia umum dampak dari abrasinya tentu sawah dan tambak mereka rata dengan air laut.
Seluruh kehidupan masyarakat yang tinggal di kawasan ini sangat memprihatinkan, karena setiap hari terancam abrasi yang berasal dari perairan utara Jawa.
Mbah Ngasirah saat ini memilih bertahan hidup bersama sekitar 170 KK di bawah genangan air laut. Sosok wanita yang hebat ini terpaksa memilih berdamai menjalani kehidupan sehari-harinya di lingkungan yang tergenang air.

Ya, karena tidak ada pilihan lain,sehingga bertahan menjadi pilihan paling utama bagi saya, kata mbah Ngasirah

Mbah Ngasirah berjualan mulai dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang, Penghasilan Mbah Ngasirah hanya 20-30 ribu/hari, “Kadang cuma laku beberapa bungkus saja”. Jelas mbah Ngasirah

Meskipun begitu, beliau tetep bersyukur dengan pendapatan sedikit juga, “Yang penting ada buat makan dan halal.” Lanjutnya.

Mbah Ngasirah harus melakoni kehidupan seperti ini dan berperan menjadi tulang punggung keluarga semenjak suaminya meninggal belasan tahun yang lalu.

(Agil-Munier)

Berikan Tanggapan

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Kolom yang harus diisi *