Konten Body Positivity' Terkadang Memperburuk Rasa Minder

Konten Body Positivity’ Terkadang Memperburuk Rasa Minder


Perempuan selfie di kamar mandi

Jana Barsova/EyeEm via Getty

Jessica Sprengle memperhatikan bahwa belakangan ini, semakin banyak klien yang mengeluhkan video TikTok. Terapis yang berbasis di Austin, Texas terbiasa menangani penderita gangguan makan dan citra tubuh.

“Perempuan memamerkan tubuhnya sebelum dan sesudah makan. Ada perbedaan yang cukup signifikan,” Sprengle menggambarkan isi video yang dikirim klien baru-baru ini.

“Klien bilang, ‘Saya merasa ke-trigger oleh video ini.’ Videonya mungkin ingin menunjukkan tubuh kita bisa melakukan ini, tapi dari perspektif orang yang mengalami gangguan makan restriktif, mereka akan berpikir ‘Saya gak mau punya badan kayak gitu setelah makan.’”

Tujuan video tersebut sebenarnya untuk menanamkan sikap mencintai tubuh dalam diri penonton. Namun, banyak konten “body positivity” yang jatuhnya menjadi seperti “body checking” di TikTok. Pengidap gangguan dismorfik tubuh — keadaan seseorang meyakini ada yang salah dengan penampilan dan bentuk tubuhnya — kerap memeriksa tubuh mereka untuk meredakan kegelisahan. 

Seperti dikatakan Sprengle, body checking yang tampaknya dapat meningkatkan rasa percaya diri malah bisa menjadi bumerang. Orang dengan gangguan dismorfik tubuh tak jarang membandingkan setiap perubahan bentuk badan mereka dari waktu ke waktu, yang pada akhirnya memperparah kegelisahan dan berpotensi menyebabkan kebiasaan makan tidak teratur.

Terlepas dari niatnya yang baik, konten #bodypositivity di aplikasi semacam TikTok mendorong penonton untuk memeriksa bentuk tubuh mereka. Fenomena ini bahkan menjamur di platform media sosial lain, seperti Instagram. Konten pemeriksaan tubuh kerap dikemas ala #bodypositive dan foto habis olahraga.

Sama seperti Sprengle, terapis Sadi Fox di Brooklyn tak jarang menerima keluhan seputar konten body positivity selama sesi konsultasi. Klien merasa gelisah akibat konten yang dimaksudkan untuk melenyapkan kekhawatirannya.

Lalu ada tren memamerkan penampilan tubuh dari berbagai pose. “Badan yang terlihat seperti ini bisa berubah jadi begini,” ujar perempuan dalam balutan bikini yang memutar dan membungkukkan badannya di video TikTok. Dia ingin menyadarkan orang-orang bahwa pose dapat mengubah penampilan secara drastis. Badan yang terlihat “bagus” dalam satu posisi bisa “jelek” di posisi lain. Di Instagram, konten-konten ini dikenal dengan sebutan “Instagram vs. reality”. Orang biasanya mengunggah foto perbandingan bentuk tubuh dari sudut berbeda. Menurut Sprengle, tren tersebut juga termasuk body checking dan hampir tidak memiliki nilai positif. 

“Entah postingan dari berbagai sudut membantu atau tidak, karena ini akan membuat banyak orang membandingkan penampilan tubuh kalian dengan tubuh mereka,” terang Sprengle. “Kalian memang tidak bertanggung jawab atas pemicu orang lain, tapi video-video ini bisa membuat orang berpikir mereka harus berpenampilan tertentu. Jika tidak, maka ada yang salah dengan mereka.”

Sprengle menyoroti perbedaan antara penerimaan tubuh dan body positivity. Penerimaan berarti kalian mencintai dan menghargai tubuh apa adanya, sementara body positivity adalah gerakan yang digaungkan oleh dan untuk kelompok yang tipe tubuhnya terpinggirkan. Masalahnya, konten #bodypositivity di internet didominasi oleh perempuan kulit putih berbadan langsing. Algoritme TikTok dan Instagram nyatanya juga lebih menyukai penampilan seperti ini. Pada awal April, Lizzo mengunggah video sindiran terhadap orang berbadan kurus karena telah mengambil alih gerakan yang sebenarnya diciptakan oleh dan untuk orang gemuk.

Fox berpendapat, alih-alih menyampaikan pesan positif, postingan-postingan yang memamerkan menu makanan setiap hari, penampilan tubuh dari berbagai sudut, dan seperti apa badan kita sebelum dan sesudah makan justru mengajari orang untuk memeriksa tubuh mereka sendiri. “Klien saya merasa gelisah menyaksikan orang lain membandingkan dan memeriksa tubuh,” tutur Fox. “Kalau dulu orang memeriksa tubuh dengan berfoto dan membandingkannya, sekarang mereka menyaksikan orang lain melakukannya secara langsung.”

Agar konten media sosial tidak memperburuk kondisi psikis, Sprengle menyarankan untuk mengikuti orang-orang yang tidak menyalahgunakan atau salah mengartikan body positivity. Algoritme TikTok bisa sangat agresif ketika menyesuaikan konten yang memikat pengguna, tapi platform ini memiliki fitur menyembunyikan video yang tidak kalian inginkan. Pengguna cukup menekan lama videonya dan memilih “tidak tertarik”. Instagram juga memiliki tombol “tidak tertarik” di setiap postingannya.

Apabila konten semacam itu tetap tidak bisa dihindari, maka cara terbaik yaitu berhenti main medsos sekalian. “Saya akan menyuruh klien tidak main TikTok selama masa penyembuhan,” kata Fox. Selama kalian masih menggunakan medsos, kalian akan terus “terlibat dengan checking meski tidak memeriksa tubuh sendiri. Melihat tubuh orang lain dan membandingkannya sama saja dengan memeriksa.”

Follow Hannah Smothers di Twitter.

//platform.twitter.com/widgets.js



Berita ini bersumber dari Vice Indonesia

Berikan Tanggapan

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Kolom yang harus diisi *