Tasya, siswa kelas X SMK 15 Jakarta akhirnya bisa merasakan belajar tatap muka setelah menunggu setahun karena pandemi virus corona.

Cerita Tasya Menanti Setahun Belajar Tatap Muka di Sekolah


Jakarta, CNN Indonesia —

Sebelum tidur Tasya merasa gusar sekaligus tak sabar ingin cepat-cepat pagi. Hari ini, Rabu (7/4), adalah hari pertamanya ke sekolah setelah ditutup karena pandemi virus corona (Covid-19).

Tasya baru diterima di SMK 15 Jakarta tahun lalu. Ia terpaksa belajar di rumah sejak Juni 2020.

Setelah 10 bulan Tasya belajar di rumah, akhirnya Pemprov DKI Jakarta melakukan uji coba membuka pembelajaran tatap muka di 85 sekolah di Jakarta, salah satunya sekolahnya.


Tasya merasa senang karena akan merasakan suasana langsung di sekolah barunya, bertemu teman, dan guru-guru.

Namun, di sisi lain ia juga masih merasa was-was karena virus Covid-19 belum juga enyah dari Jakarta.

“Semalam deg-degan karena baru pertama kali,” kata Tasya. “Sempet kepikiran. Kita kan enggak tau mereka terserang atau enggak.”

Pikiran itu ia simpan dan digantinya dengan doa agar semuanya berjalan baik-baik saja.

Tak ingin terlambat, Tasya sengaja bangun pagi sekali. Tadinya ia ingin berangkat pukul 06.00. WIB. Namun, sekitar rumahnya diguyur hujan.

Hujan cukup lebat sehingga ia harus menunda keberangkatannya. Hingga pukul 06.20 WIB hujan belum juga berhenti.

Akhirnya, Tasya meminta ayahnya untuk tetap mengantar ke sekolah menggunakan sepeda motor karena takut telat.


Sesampainya di sekolah, ia dicek suhu badan dan diminta mencuci tangan. Untungnya suhu badan Tasya di bawah 37 derajat celsius. Jika di atas angka itu, para siswa harus masuk ruang isolasi yang sudah disediakan sekolah.

Tasya langsung masuk ke ruang kelas. Ada 14 siswa di kelasnya. Tasya adalah anak kelas 10 jurusan Akuntasi. Jadwal pelajaran hari ini, mata pelajaran simulasi komunikasi digital dan akuntansi.

Menurutnya, pembelajaran tatap muka lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran jarak jauh (online). Ia merasa lebih paham dan gampang mencerna pelajaran.

“Kalau belajar di rumah, kadang koneksi macet-macet juga kan. Beberapa ada yang paham ada yang enggak,” ujarnya.

Sebagai anak yang baru masuk SMK, yang lebih menarik selain belajar langsung adalah bertemu teman dan guru.

Tetapi saat bertemu Tasya merasa asing dan malu. Selama ini ia hanya berkomunikasi melalui aplikasi pesan singkat.

“Aneh, jadinya canggung karena biasa lewat chat,” katanya.

Meski begitu, ia tetap berbincang seadanya dan menjaga jarak. Sebelum berangkat sekolah, ibunya berpesan agar tetap menjaga protokol kesehatan di sekolah.

“Pesan orang tua jaga jarak, jangan dekat-dekat. Disuruh bawa masker pengganti,” katanya.

Tasya sebenarnya merasa sedih juga karena tak bisa melihat wajah teman-teman dan gurunya. Ia hanya bisa melihat dua pasang mata mereka karena sebagian lagi harus ditutup oleh masker.

Meski begitu, Tasya tetap tak kapok untuk belajar tatap muka di sekolah.

“Tapi, aku mau lagi (masuk) karena bisa lebih dekat sama teman, sama guru,” ujarnya.

Berdasarkan peraturan Pemprov DKI Jakarta, pelaksanaan tatap muka dilakukan satu hari setiap minggu untuk 1 jenjang kelas.

Kemudian, durasi belajar dibatasi antara 3-4 jam dalam satu hari, materi pembelajaran hanya materi-materi esensial, satuan pendidikan yang melakukan uji coba adalah yang telah mengikuti pelatihan pembelajaran campuran, serta para guru dan tenaga kependidikan telah divaksinasi.

(yla/fra)

[Gambas:Video CNN]


!function(f,b,e,v,n,t,s){if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?
n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};if(!f._fbq)f._fbq=n;
n.push=n;n.loaded=!0;n.version=’2.0′;n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;
t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window,
document,’script’,’//connect.facebook.net/en_US/fbevents.js’);

fbq(‘init’, ‘1047303935301449’);
fbq(‘track’, “PageView”);



Berita ini bersumber dari CNN Indonesia

Berikan Tanggapan

Alamat email Anda akan dirahasiakan. Kolom yang harus diisi *